Pendampingan Gerdu-Taskin

UPK Desa Tempuran – Berkembang di tengah hutan

Pernah ke desa Tempuran, di kecamatan Ngluyu kabupaten Nganjuk? Memang tidak ada yang istimewa. Desanya ada di pinggiran hutan yang tidak terlalu jauh berbatasan dengan kabupaten Bojonegoro. Tidak ada potensi yang menonjol. Tidak ada pasar, tidak ada pusat atau sentra kerajinan maupun home industri. Kalau siang hari, desa Tempuran terlihat sepi, karena hampir sebagian besar penduduknya pergi keluar desa untuk bekerja. Mereka berdagang ke luar desa, bertani ke sawah atau bahkan ke hutan untuk mencari kayu bakar.

 

Melihat keadaan desa seperti ini, aneh rasanya dapat meyakini Program Gerdu-Taskin dapat diharapkan berhasil di desa ini. Tetapi yang terjadi kenyataannya lain. Lihat saja ke kantornya UPK. Jangan di waktu siang hari. Tetapi bila ingin melihat aktivitasnya, datang saja pada waktu malam hari selepas maghrib. Setiap hari di desa itu, UPK melayani angsuran dan pinjaman dari anggota Pokmas maupun RTMB secara perorangan.

 

jus2.jpgJusianto, sang ketua UPK bersama dua rekannya Sucipto dan Sunarto memang gigih agar UPK yang dikelolanya berhasil. Mereka mencoba membuat aturan dan prosedur pinjaman yang aman dan menghasilkan. Pak Kades juga memberikan otonomi yang memadai agar UPK dapat berjalan secara maksimal. Pada Pokmas, diterapkan benar pola tanggung renteng, namun pada pinjaman perorangan, UPK menerapkan jaminan.

 

Tidak memberatkan, Pak?”

Kami hanya mendidik rasa tanggung jawab pada masyarakat. Kalau mereka bertanggung jawab, jaminan itu bukan sesuatu yang menjadi masalah. Sekalipun awalnya sebagian masyarakat menolak, tetapi kini mereka sudah dapat menerima aturan ini,” urainya.

 

Penjelasan sederhana ketua UPK ini seperti memberikan jawaban atas pernyataan-pernyataan heroik sebagian kalangan, bahwa memberikan pinjaman kepada si miskin tidak boleh dengan jaminan dan jasa yang memberatkan. Padahal jaminan maupun jasa itu justru untuk mendidik si miskin agar mengelola secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab atas pinjamannya.

 

Kini UPK desa Tempuran telah memiliki kantor sendiri yang terpisah dari kantor desa, memiliki seperangkat komputer dan meja kursi serta almari. Sangat sederhana, tetapi ini pun sudah luar biasa dibandingkan UPK-UPK lain pada umumnya. Setiap bulan, UPK mampu memberikan dana pembangunan untuk desa sebesar Rp. 200.000,-. Masing-masing pengelolanya sudah berhonor di atas Rp. 200.000 per bulan. Dan bukan tidak mungkin, bila suatu saat, pemuda-pemuda gigih itu berhonor di atas Rp. 500.000 atau lebih per bulan.

 

Lalu, apa harapan mereka?

Ternyata sederhana. Mereka hanya membutuhkan pembinaan dan kejelasan status UPK. Selama ini hampir tidak ada lagi monitoring, baik dari Propinsi maupun Kabupaten. Masyarakat sudah mulai ada yang menganggap bila program ini sudah bubar, tidak ada kelanjutannya lagi. Berarti pinjaman kepada masyarakat tidak perlu dikembalikan. Oleh sebab itu, mereka menyatakan rasa senangnya bila ada yang mengunjungi, karena masyarakat menganggap bahwa Gerdu-Taskin masih berlanjut. Woalah, … ada-ada saja alasan untuk berbuat tidak baik. (emye)

 

11 September 2007 - Posted by | PROFIL

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: